Make your own free website on Tripod.com

MONOLOGUE

 

Dia tak pernah mau memahami perasaanku. Itulah sebabnya akhir-akhir ini rumah tangga kami sering cekcok. Pertengkaran yang dipicu dari persoalan sepele seperti headline news yang wajib hadir setiap jam. Tapi, perlu aku luruskan sebelumnya. Aku tak bermaksud mengeluh kepadamu. Aku hanya ingin kamu mendengar saja kisah rumah tanggaku. Aku ingin ada orang lain yang bersedia meluangkan waktu sejenak menyimak kisah-kisahku walaupun sebenarnya aku agak ragu menceritakannya karena ini sangat privacy. Dan, aku yakin kamulah orangnya.

Sekali lagi. Percayalah. Aku tak bermaksud membebanimu dengan kisah-kisahku.

Di awal-awal pernikahan kami, aku sempat yakin dia adalah laki-laki yang sanggup memahamiku dan penuh tanggung jawab. Semasa kami pacaran, dia kukenal sebagai laki-laki yang romantis. Meski dia bukan laki-laki pertama yang pernah kuijinkan menginap dalam setiap desah nafasku dan mengisi buku harianku, sering kali aku dibuatnya melayang ke awang-awang. Dia tak bosan memujiku setiap kali kami bertemu. Selalu ada saja bahan pembicaraan yang dia olah sehingga pertemuan kami tak pernah meninggalkan kesan jemu. Sepertimu, dia juga punya rasa jenaka yang tinggi. Dan aku tak pernah kuasa melupakannya.

Aku masih ingat dulu kamu pernah mengatakan seandainya aku bahagia hidup bersamanya, maka kamu juga akan turut bahagia. Ya, bahkan sampai sekarang pun aku tak berniat melupakan kata-katamu itu. Tapi sekarang, apakah kamu juga akan merasa sedih seperti aku? Aku mohon meski menurutmu kau tak harus menjawab pertanyaanku dengan kata-kata, tunjukkan saja sikapmu padaku.

Maaf, aku sedikit emosi. Hampir saja aku tak dapat mengontrol situasi ini. Kepalaku sudah seperti balon yang penuh dengan angin. Dan, jika terus dipompa pasti akan meletus. Itulah sebabnya, aku coba menemuimu. Kucari-cari informasi keberadaanmu dari kawan-kawan dekatmu yang masih sering menghubungiku. Hingga akhirnya aku berhasil mendapat nomor ponselmu.

Baiklah, aku lanjutkan kisahku.

Asal kamu tahu, pernikahan kami sudah dikaruniai dua anak. Keduanya masih kecil-kecil. Selama sepuluh tahun menikah, baru lima tahun lalu kami memutuskan untuk memiliki momongan. Harap kamu memakluminya, di tengah kesibukan kami masing-masing, kami sepakat untuk menunda dulu kehadiran anak-anak. Bukan kami tak mengharapkan mereka, tapi kami masih ingin mematangkan karier.

Pernah suatu hari aku tercenung, kenyataannya karier tak akan pernah habis diburu kecuali si pemburu sudah mati. Kesibukan tak pernah ada hentinya seperti jarum jam yang terus berputar menyisir angka-angka. Setiap orang pasti tahu itu. Karenanya, aku pikir jika kami terus menerus memutuskan untuk memikirkan karier, kapan lagi kami sempat memiliki putra-putri yang akan meneruskan perjalanan kami kelak. Kapan lagi kami bisa seperti para orangtua yang keluarganya sehari-hari dipenuhi celoteh anak-anaknya. Jujur saja, dalam hati sebenarnya aku mengiri pada mereka. Pernah suatu hari aku beranikan diri mengatakan pada suamiku, buat apa kita menimbun banyak kekayaan jika setelah kita meninggal nanti justru tak terurus. Bukankah itu mubazir namanya?

Suamiku malah menanggapi dengan dingin. Mungkin ada kata-kataku yang salah sehingga dia menampakkan sikap demikian. Mungkin waktu yang kurasa tepat untuk mengajaknya berbicara menurut dia justru sebaliknya. Itulah salah satu permasalahan rumah tangga kami. Kesibukan yang tak kenal waktu dan pekerjaan yang menggunung seolah tak mengijinkan kami untuk saling komunikasi.

Suatu hari dalam perjalanan pulang kerjaku, aku menyempatkan diri mampir ke sebuah toko buku. Di sana kucari sebuah buku berjudul Menciptakan Surga Rumah Tangga. Konon, kata rekan sekerjaku buku itu menarik bagi pasangan yang sudah berkeluarga. Ya, di sela-sela kesibukanku bekerja sebagai staf sebuah instansi pemerintah aku selalu berusaha mencuri-curi peluang membaca, termasuk membaca buku itu. Itulah kebiasaanku yang belum juga pudar sejak aku masih kuliah. Aku yakin kamu masih mengingatnya, bukan?

Masyaallah, betapa buku itu menjadi nasihat yang baik bagiku. Aku membacanya dari awal hingga akhir. Berulang-ulang. Kupahami segala maksud penulisnya. Ternyata dugaanku tak meleset. Di antara sebab-sebab kehancuran rumah tangga yang paling utama, kata penulis buku itu, adalah tidak adanya komunikasi seimbang pada setiap pasangan. Sebab lain tentu tidak adanya rasa saling percaya dan memahami. Telak saja kata-kata itu menusukku.

Aku harap kamu jangan bosan dulu mendengar kisahku ini.

Aku memang tidak menyalahkan pekerjaan sebab itulah ladang kami. Tapi, lama-lama aku muak juga dilibas rutinitas yang tidak menghargai kepentingan kami sebagai dua orang beda jenis kelamin yang sudah berkeluarga. Bisa kukatakan dalam hal ini aku memang terlalu kekanak-kanakan karena aku lebih sering menuduh suamiku dan pekerjaannya sebagai wartawan itu. Dia lebih banyak di lapangan dari pada di rumah. Kadang kala aku masih bisa memahami. Barangkali ini memang resiko yang mesti kami tanggung, khususnya suamiku.

Tapi, apakah menurutmu aku bersalah dalam hal ini? Maksudku, aku berusaha memberontak karena aku menginginkan hakku sebagai isteri tepenuhi, namun kenyataannya segalanya bagai mimpi. Sudahlah, pikirkan seandainya kamu diperlakukan seperti aku oleh isterimu, apa yang akan kamu lakukan? Seandainya kebetulan kerja isterimu lebih banyak di luar dari pada di rumah, apakah kamu tak merasakan betapa keringnya suasana hati dan rumahmu? Setiap kali isterimu datang, yang tampak di wajahnya tiada lain selain rona kelesuan. Sungguh, bagiku itu sebuah pemandangan paling tak sedap yang pernah kulihat.

Sebagai pasangan suami isteri, tentu saja kami perlu waktu untuk berkumpul bercengkerama. Itu hak paling mendasar bagi kami. Kalau kamu tahu, rumah kami terlalu besar untuk kami huni. Ruang tamu serasa senyap, hanya sesekali terdengar canda tawa anak-anak kami. Selebihnya mereka kami titipkan di rumah neneknya. Kolam dan taman di depan rumah pun terlihat sebagai pintu kuburan bagi kami. 

Yang paling menyedihkanku adalah sikap suamiku yang semena-mena menuduh tak bisa memahami dirinya. Aneh, bukan? Bukankah dengan berkata begitu sama saja dia tak mempercayaiku lagi? Dia telah meragukan diriku bahwa sebenarnya aku juga bisa memahami dirinya. Padahal, aku katakan sejujurnya, sebagai perempuan sekaligus isterinya aku berharap selalu dapat menjadi sosok yang bisa dia percaya. Tegasnya, kepercayaan dari suamiku-lah yang paling aku dambakan. Dia satu-satunya orang yang boleh mendampingiku siang malam, bila perlu sampai mati kami tetap berdampingan. Dia satu-satunya orang yang kuharapkan dapat memberiku rasa nyaman.

Dalam segala pekerjaan rumah akulah yang mengurusi. Sejak kami memiliki anak pertama, jarang sekali kulihat suamiku menyentuh perabotan dapur. Kurasa ini memang ganjil dan sampai sekarang aku tak tahu pasti penyebabnya. Kalau hanya pekerjaannya yang jadi alasan, aku rasa ini terlalu berlebihan. Padalah, di awal pernikahan kami, dia sering membantu kerjaanku di dapur. Meski sekadar merebus air, dia tak merasa keberatan. Tapi, sekarang…

Sekadar kamu tahu, kami memang tak merekrut pembantu. Kata suamiku, biar kelak anak-anak kami lebih dekat dengan orangtuanya. Awalnya aku mengusulkan nggak ada salahnya mengambil pembantu mengingat kesibukan kami yang begitu padat. Toh, kalau para pembantu itu merasa betah di rumah kami, kami tak segan-segan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Betapa rumah kami akan terasa ramai.

Nyatanya usulanku tak diterima. Bayangkan saja betapa lelahnya aku yang bekerja seharian, kemudian sesampainya di rumah aku harus mempersiapkan makanan. Semua kulakukan tanpa penghargaan yang cukup dari suamiku. Aku tak ingin keringatku bekerja di rumah dihargai dengan uang sebab aku juga bisa memperolehnya sendiri. Aku bukan pembantu rumah tangga, tapi akulah bagian dari rumah tangga itu. Yang aku harapkan hanyalah perhatian yang tulus serta sikap memahami yang dia tunjukkan. Tapi, semua itu hanyalah nonsense belaka. Nyaris tak membawa hasil apa pun.

Semenjak kami punya anak, pertengkaran yang paling membekas dalam ingatanku adalah saat suamiku sedang menyelesaikan tugas laporannya suatu sore, tiba-tiba kami dikejutkan oleh jeritan anak bungsu kami. Si kecil itu terjatuh dari ranjang sebab didorong oleh kakaknya. Rupanya mereka bertengkar soal pembagian mainan. Dalam hati aku membatin, sepertinya alamat buruk hubungan kami sebentar lagi akan bertandang. Suamiku yang merasa terusik dengan tangisan si bungsu langsung marah-marah kepadaku dan mengatakan aku tak becus mengurus anak. Aku sudah bermaksud menjelaskan kejadian sebenarnya, tepatnya membela diri ketika itu. Tapi kuurungkan sebab tangan kekarnya seolah tak sabar mendarat di mukaku. Aku sendiri juga khawatir keadaan anak-anak yang tahu watak keras ayahnya. Di saat kondisi memanas seperti itu, aku selalu berusaha menjauhkan pertengkaran dari mata dan telinga mereka.

Tapi, sore itu usahaku menjauhkan anak-anak dari arena pertengkaran kami gagal. Tak mustahil anak-anak yang bagai pita kaset itu telah merekam semuanya. Entah suatu hari nanti mereka akan memutarnya kembali atau tidak.

Bagaimana, kamu masih tertarik aku melanjutkan kisahku?

Baiklah. Setelah kupikir-pikir belakangan ini aku seperti tersadar aku telah memilih laki-laki yang salah. Setidaknya itulah kesimpulanku terhadap suamiku saat ini. Sikap romantis yang dulu selalu dia tunjukkan padaku bisa saja hasil dari rekayasanya untuk mendapatkanku. Dia pasti telah belajar banyak literatur trik merayu yang handal. Celakanya, aku tak pernah menyadari hal itu. Kamu tahu sendiri, aku terlalu lugu saat itu dan aku hanya memikirkan apa yang ada dalam pikiranku saja, tanpa berfikir panjang tentang sebab-akibat. Aku memilihnya karena kutahu dia laki-laki romantis dan bisa memahamiku.

Kalau boleh jujur, aku ingin mengatakan satu hal kepadamu sekarang. Aku telah menyesal menolak cintamu waktu itu. Dari beberapa kawanmu, aku mendengar kabar betapa rukunnya rumah tangga yang sudah kalian bina selama tujuh tahun. Bahkan aku dengar pula kamu adalah bapak yang sangat pengertian dan menyayangi isteri serta anak-anakmu. Aku sempat berfikir betapa bodohnya aku menolakmu. Tentu waktu itu kamu merasa betapa sakitnya hatimu saat aku menolakmu. Ya, aku memang tak sempat berfikir.

Tapi melihatmu di sini, ada yang tiba-tiba membuatku begitu salut kepadamu. Aku masih ingat saat aku menolakmu dulu. Kamu juga tak akan melupakannya, bukan? Saat itu, kamu tak menampakkan sedikit pun kebencian dan rasa dendam padaku. Entah benar atau salah. Nyatanya, sampai saat ini aku bisa melihat ada ciri khas dirimu yang rupanya tak pudar-pudar. Kamu selalu menyikapi segalanya dengan besar hati dan percaya diri, tepatnya kamu menyikapinya dengan pikiran dewasa. Seandainya waktu bisa diputar ulang, aku berjanji akan memperbaiki segalanya.

Baiklah, sepertinya harus kupotong saja kisahku ini. Hari sudah mendekati senja. Aku mesti pulang. Isteri dan anakmu pasti juga sudah menunggu. Lain kali aku akan menghubungimu lagi. Saat ini aku takut jika kisahku malah membuatmu merasa tak nyaman meski sekilas aku tahu kamu sebenarnya masih betah ngobrol denganku setelah tujuh tahun kita tak pernah bertemu lagi. Oh, ya…tolong sampaikan salamku kepada isterimu dan ini ada sedikit bingkisan buat anak-anakmu. Kapan kamu mengajak isteri dan anak-anakmu berkunjung ke rumahku?

*12' '05*