Make your own free website on Tripod.com

 

KUTUKAN SEORANG IBU

 Desa kami gempar semenjak tersiar kabar kalau orang itu berubah jadi babi. Menurut berita yang kami dengar dari mulut ke telinga kemudian ke mulut dan ke telinga lagi, dan begitulah seterusnya, orang itu berubah jadi babi lantaran dikutuk oleh ibu kandungnya sendiri. Sebagian penduduk desa kami ada yang percaya begitu saja atas desas desus yang berhembus tersebut, dan mereka meyakini sepenuhnya bahwa ibu merupakan sosok yang amat keramat; doanya makbul dan kutukannya manjur, seperti yang sedang menimpa orang itu. Namun, tidak sedikit pula ada yang meragukan atau bahkan tidak percaya sama sekali dengan peristiwa ini dan menganggap hal ini hanya dikaitkan dengan cerita takyat semacam legenda Malin Kundang.

Dulu, sewaktu usia kami masih ranum-ranum, memang tidak sedikit hikayat yang berisi pelajaran akhlak yang diberikan oleh para guru ngaji kami. Belasan bahkan puluhan hikayat itu sudah tidak asing menyeruak di telinga kami. Dan, tentu saja salah satunya berkaitan dengan sosok ibu. Sampai-sampai, jika kami dengar ada kawan atau siapa pun yang berani durhaka kepada ibunya, kami tak segan untuk mengejek atau turut mencemoohnya.

Meski demikian, lambat laun kami sebenarnya mulai curiga dengan kebenaran hikayat-hikayat itu. Kami kira, hikayat-hikayat itu sengaja dibuat guna menaburkan benih rasa takut di benak kami, hingga akhirnya setelah dewasa nanti kami akan menjadi manusia-manusia berpikiran kerdil dan ciut nyali di haribaan perempuan yang—masing-masing—kami memanggilnya ibu, emak, mami, atau apa saja.

Tapi peristiwa ini benar-benar terjadi di kampung kami, kata kabar yang tersiar, walaupun tanpa kami ketahui secara langsung dengan mata kepala kami sendiri tentang orang itu yang berubah jadi babi. Menurut salah seorang tetangga kami yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah orang itu, dan, katanya menegaskan kami, sempat mengintip langsung dari celah dinding yang terbuat dari bambu, bahwa sebelum orang itu terkena kutukan, ia terlebih dahulu memaki dan mengumpat ibunya. Puncaknya, orang itu meludah tepat di wajah perempuan senja yang sudah tak berdaya itu, ibu kandungnya sendiri.

“Kau sudah durhaka pada ibumu sendiri! Itu dosa, Nak!” suara perempuan itu terdengar parau. Istighfarlah ! Mohon ampun pada Tuhan !, kata perempuan itu meneruskan kata-katanya. Kali ini suaranya mulai melemah meski ia coba angkat keras-keras suaranya. Namun, hanya sia-sia belaka yang ia dapatkan sebab orang itu rupanya sangat keras kepala. Bahkan sama keras dan pedasnya dengan jawaban-jawaban yang diberikan kepada perempuan itu, ibu kandungnya sendiri.

Preekkk……dengan dosa. Itu urusan nanti. Urusanku sendiri. Tak perlu kau turut campur. Yang ada sekarang hanya urusanku denganmu, hai perempuan tak tahu diri !”

“Istighfarlah sebelum saatnya terlambat, sebelum maut menjemput !” pinta ibunya. Perempuan itu mengucapkan ‘sebelum maut menjemput’ sembari berusaha meraih wajah orang itu, anak kandungnya sendiri. Tapi orang itu buru-buru mundur menjauhi dengan secekat gerakan kucing berjingkat.

“Oh, Kau perempuan macam apa? Mau mendoakan agar aku cepat mati? Kau pikir, Kau ini siapa?”

“Tidak, Nak! Ibu tidak mendoakanmu seperti itu. Tapi siapa yang mampu mangkir dari takdir?” Lagi-lagi yang didapat oleh perempuan itu hanya kesia-siaan belaka. Kata-kata perempuan itu seolah berubah jadi embun yang menguap saat matahari kian merangkak naik.

“Ibu hanya mohon, percayalah kepada ibu !”

Lalu, kata seorang tetangga kami yang sempat bercerita itu, terdengar suara perempuan menjerit mengaduh berkumpul pada hari yang gaduh di rumah itu. Bagaimanapun, hati perempuan itu telah pecah di saat cuaca di luar sebenarnya sungguh cerah.

Kami menganggap peristiwa yang menimpa desa kami sebagai sesuatu yang janggal tapi nyata. Barangkali akal kami memang tidak sanggup menerima. Namun, apakah segala sesuatu akan selamanya diakui sebagai sebuah kebenaran jika terlebih dahulu harus melewati tahapan-tahapan rasionalisasi? Bukankah kemampuan akal manusia juga serba terbatas? Yang kami yakini hanyalah apa yang harus kami yakini menurut ajaran para nabi dan rasul, sebagaimana tertulis abadi dalam kitab suci.

Suatu malam ketika peristiwa yang menggemparkan ini belum reda, kami bermaksud mendatangi guru ngaji kami, Kiyai Hamid. Bagi kami, Kiyai Hamid, bukan saja seorang tokoh masyarakat atau sesepuh desa, melainkan segala tindak tanduknya sering menjadi tauladan kami. Itu semua karena sikap beliau yang ramah, santun, bersahaja, rendah hati, dan berwibawa. Jika boleh dibandingkan dengan laut, ilmu beliau lebih luas dan dalam daripada laut itu sendiri. Dan, jika seandainya ilmu beliau disejajarkan dengan gunung, niscaya ilmu Kiyai Hamid pasti lebih tinggi dari gunung itu sendiri.

Setelah Kiyai Hamid menerima kehadiran kami, kami dipersilahkan duduk di sofanya. Suatu kehormatan yang sangat agung bagi kami dapat duduk sejajar dengan Kiyai ‘besar’ seperti Kiyai Hamid ini. Sekedar mengulang hikayat yang pernah diceritakan kepada kami sewaktu kami masih rajin meramaikan musholla dan kegiatan belajar mengaji al-Qur’an pada Kiyai Hamid, beliau mulai bercerita:

“Dulu,” katanya, tanpa sedikitpun ada yang berubah dari gaya berceritanya yang khas. “Ada seorang pemuda yang tersohor sangat alim. Bahkan di negerinya, hampir-hampir tak ada satu pun ibadah penduduk yang mampu menandingi ibadah si pemuda ini.”

“Setiap hari yang dikerjakan hanya shalat, wiridan, i’tikaf, berpuasa, dan tadarrus. Tak sedetik pun waktunya diluangkan untuk hal-hal selain ibadah. Nah, pada suatu hari, karena ada keperluan yang sangat mendesak di rumahnya, ibu dari si pemuda ini bermaksud memanggilnya. Pada panggilan pertama, si pemuda ini tidak menghiraukan. Dan ia lebih asyik dalam ibadahnya. Lalu si ibu ini menanti dengan kesabaran yang tak terperi.”

“Selanjutnya pada panggilan kedua, si pemuda ini masih tetap seperti semula. Hati ibunya mulai cemas. Nah, pada panggilan ketiga, ketika si pemuda ini tetap tak menghiraukan panggilan ibunya, ibunya mulai kesal. Dan, karena si ibu tadi juga manusia biasa seperti kita ini, tentu ia tak luput dari kesalahan. Si ibu tanpa sengaja melontarkan kutukan kepada anaknya.”

“Kalian masih ingat apa yang terjadi kemudian?” tanya Kiyai Hamid kepada kami. Agak terkejut kami menerima pertanyaan seperti ini. Dalam hati, jujur saja, kami mengaku bahwa kami telah lupa detail ceritanya. Cuma yang kami ingat biasanya terbatas pada judul cerita atau tokohnya saja, kecuali cerita yang sudah terkenal seperti si kancil yang cerdik itu. Kami benar-benar telah lupa atau justru sengaja melupakannya? Kami rasa jawaban atas pertanyaan ini tidak perlu diutarakan kepada beliau, Kiyai Hamid. Dan lagi, bagaimana kami menutupi rasa malu sebab telah melupakan cerita yang penuh nasihat bijak dan pelajaran moral tersebut?

Kami diam. Sunyi. Sepertinya Kiyai Hamid mampu membaca kedunguan kami melalui gerak bola mata dan siku kami yang saling bersikutan satu sama lain.

“Yang terjadi kemudian…” kembali Kiyai Hamid melanjutkan kisahnya setelah terlebih dahulu beliau menyeruput teh manis yang dihidangkan malam itu, begitu pula dengan kami. “Pada malam harinya, kampung tempat si pemuda ini tinggal digegerkan oleh ulah seorang pencuri yang ketahuan sang pemilik rumah. Orang seisi rumah itu berteriak keras yang mengakibatkan seluruh penduduk terbangun dari tidur lelapnya. Saat dikejar, pencuri itu telah menyelinap di sekitar masjid, tempat si pemuda ini setiap hari menjalankan ibadah.”

“Sampai di dekat masjid, tanpa sepatah tanya terucap, penduduk langsung menyeret si pemuda yang diduga sebagai pencuri yang sedang berpura-pura shalat. Meski si pemuda ini berusaha menepis tuduhan penduduk, namun suaranya terlampau kalah dengan emosi warga yang sudah dibuat gerah. Si pemuda ini tak dapat mengelak dari nasib. Ia dihakimi massa; kedua matanya dibutakan, dan kedua tangan serta kakinya dipotong.”

“Lalu, apalagi?” tanya Kiyai Hamid kepada kami. Kami jatuh pada suasana antara kagum dan terkejut. Kenapa Kiyai Hamid bertanya lagi kepada kami yang telah mengubur dalam-dalam hikayat-hikayat semacam ini? Tapi itu tak memakan waktu lama.

“Setelah penduduk puas menghakimi si pemuda alim yang diduga sebagai pencuri ini, mereka pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang saja di tempat itu. Nah, di bawah temaram lampu obor, tiba-tiba salah seorang di antara mereka rupanya ada yang mengenali siapa sebenarnya ‘maling’ yang telah mereka tangkap. Samar-samar lalu tampak jelas, mereka terkejut, ternyata mereka telah salah tangkap. Apa lacur, nasi telah jadi bubur. Orang-orang yang masih tersisa itu segera mengantar si pemuda malang ini ke rumahnya. Sesampainya di rumah, seseorang yang ditunjuk sebagai juru bicara mengisahkan kejadian yang menimpa putranya. Si ibu yang melihat kondisi putranya seperti itu, langsung menangis terharu. Maafkan ibu, Nak, kata si ibu yang sadar bahwa setiap kata-katanya ternyata lebih ampuh dari mantera-mantera. Setelah keduanya saling bermaafan, tiba-tiba turun keajaiban dari langit. Tubuh si pemuda ini kembali sempurna. Dan si pemuda ini pun akhirnya berjanji akan selalu taat dan patuh kepada ibunya.”

“Masih ada satu kisah lagi.” Kata Kiyai Hamid. Kami terkejut. Hati kami kecut dan mulai gusar. Tapi bagaimana kami sembunyikan perasaan kami? Tentu sangat mudah bagi Kiyai Hamid untuk membaca pikiran kami dari gerak bola mata atau tubuh kami. Kami hanya mampu menyembunyikan segalanya dalam hati; mbok ya, kalau Kiyai Hamid bercerita jangan panjang-panjang ! Syukurlah, kami sedikit lega sekaligus gelisah. Agaknya Kiyai Hamid tak mampu membaca pikiran kami. Tapi……

“Dulu, pada masa nabi masih hidup,” katanya memulai kisah yang baru itu. “Ada seorang laki-laki yang sedang menghadapi sakaratul maut. Para tetangga yang merasa iba dengan laki-laki itu, segera memberitahu nabi. Ditemani beberapa shahabat, nabi pun beranjak menuju ke rumah si laki-laki itu. Setelah melihat keadaannya sebentar, nabi bertanya kepada isteri laki-laki itu. Si isteri menjawab kalau antara suaminya dan mertuanya sedang berseteru. Bahkan, mertua perempuannya itu menambahkan, ia tidak akan memaafkan anaknya selama-lamanya. Seketika itu juga nabi mengutus salah seorang shahabat untuk segera menjemput sang ibu, atau, setidaknya memaafkan segala kesalahan putranya, si laki-laki yang sedang sekaratul maut ini.”

“Tapi apa jawab sang ibu? Ternyata perempuan itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya semula; tidak akan memaafkan kesalahan anak kandungnya sendiri!”

Setelah segala upaya dilakukan gagal untuk meraih hati sang ibu, nabi pun memerintahkan agar jasad laki-laki yang sekarat itu dibakar saja. Demi mendengar berita tersebut, hati si ibu tadi luruh. Ia pun bersedia datang ke rumah anaknya dan memaafkan segala kesalahannya. Akhirnya, dengan disaksikan nabi, ibu dan isterinya, dan beberapa shahabat, laki-laki itu akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang.”

“Nah, itulah sedikit kisah akibat seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, terlebih lagi kepada ibu kandungnya sendiri.” Kiyai Hamid menutup ceritanya seolah-olah tengah menyimpulkan sebuah uraian yang panjang dan melelahkan. (Bagi kami, kisah ini bukan lagi ‘seolah-olah’, melainkan benar-benar panjang dan melelahkan). Malam itu juga kami pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan ‘suka’ bercampur ‘duka’.

Belum genap seminggu sejak kami mendatangi Kiyai Hamid, desa kami kembali gempar. Menurut seorang tetangga yang sedang melaksanakan tugas ronda, ia melihat sebuah bayangan berkelebat. Setelah diamati dengan teliti, tetangga kami yakin bayangan itu adalah bayangan seekor babi.

Malam itu desa kami gaduh. Ada yang berteriak; babi ngepeeettt…..!!! Teriakan itu rupanya membangunkan tidur lelap penduduk, termasuk kami. Penduduk, dan kami, segera berhamburan keluar menyerupai sekumpulan kelelawar yang telah kau takuti-takuti dengan api obormu. Dengan berbagai ragam senjata tajam, penduduk memburu babi itu.

Mereka, dan kami, berhasil menangkap babi yang meresahkan desa. Tanpa sepatah kata terucap, kami dan para penduduk segera menyiksa, tegasnya ‘menghakimi massa’ babi naas itu. Saat babi itu sekarat, terdengar suara perempuan dari sebuah rumah. Lirih namun pasti, suara itu berkata, Nak! Maafkan ibu yang dulu tak sengaja mengutukmu.

Jombang, Desember/04

(dimuat di Harian Sore Surabaya Post, Minggu 26 Desember 2004)